nilai itu penting?
ketika tanggal menunjukkan hari pendidikan nasional, ada 1 nama yang selalu disebut dan tiba2 kembali ke permukaan. Tengoklah ke masa lampau.. masih ingat dengan bapak pendidikan kita? Ki Hajar Dewantara. beliau adalah seorang guru di masa perjuangan. beliau berjuang korbankan tenaga, waktu dan harta benda demi pendidikan generasi muda indonesia. pertanyaannku adalah, dulu ada raport g? raport tu penting g? ada nilai-nilai g? apa semua itu sangat penting pada masa itu?? yang jelas, pada masa itu kemerdekaanlah yang terpenting. motivasi terbesar pelajar waktu itu adalah pintar dan membangun bangsa. bukan untuk mendapat angka-angka yang sekedar hitam diatas putih
lalu, sekarang, apa yang nyata di depan mata kita?
“kenapa kalian beljar?
“biar nilainya bagus”
“emang apa enaknya nilai bagus?
“biar gampang cari kerja donk”
jika mau jujur, pasti sebagian besar peserta didik di indonesia menyatakan hal demikian. sebenarnya apa sih hakekat nilai sebenarnya? nilai hanyalah salah satu cerminan kualitas diri saja, tapi bukanlah faktor yang utama untuk menyatakan apakah seseorang berkualitas atau tidak. ketika makna nilai di mata peserta didik khususnya dan masyarakat umumnya adalah luar biasa penting dan wajib, maka bersiaplah indonesia kacau hanya gara2 permasalahan sepele ini.
bayangkanlah orang tua yang menuntut anaknya untuk selalu mendapat nilai yang bagus. lihatlah guru yang selalu menekan siswanya dengan sindiran atau secara langsung merendahkan siswa serta mengucilkannya hanya karena nilai siswanya rendah atau tidak memenuhi SKM.
sadar atau tidak, lingkungan keluarga yang mendewakan nilai angka, serta guru-guru yang telah menekan siswanya untuk selalu berprestasi dengan nilai yang cemerlang, telah menanamkan karekter buruk bagi peserta didik untuk kehidupan jangka panjang. dan, salah satunya adalah hilanglah rasa percaya diri mereka untuk dapat mendiri, sehingga muncul istilah mencontek.
peserta didik yang mencontek faktanya bukanlah siswa yang tidak mampu secara IQ, namun karena tidak adanya rasa percaya diri pada diri mereka sehingga tingkat ketergantungan terhadap teman sangatlah tinggi. malu jika mendpat nilai jelek, takut dimarahi ortu, guru, serta takut diejek oleh teman-temannya. padahal kunci kesuksessan itu sendiri adalah percaya kepada diri sendiri. jika saat ini mereka telah memiliki karakter negatif seperti itu, maka akan ditularkan pada anak-anak, lalu cucu-cucu dan demikian seterusnya. dan bagaimana nasib bangsa ini jika nilai didewakan? mari merenung, mari sadarkan diri dan benahi bangsa ini.
masihkah berpikir nilai adalah segalanya? look at Chris Gardner, dari gelandangan menjadi milyuner. apa dulu dia gila nilai?? yang dia cari adalah softskill dan hardskill.. belajar dari pengalaman dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. :)